Rolet sebagai sarana kritik sosial di Indonesia memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Dalam era digital seperti sekarang, rolet telah menjadi platform yang digunakan oleh masyarakat untuk menyuarakan pendapat dan kritik terhadap berbagai isu sosial yang terjadi di Indonesia.
Menurut Dr. Hestu Wahyu Prabowo, seorang pakar media sosial dari Universitas Indonesia, rolet merupakan media yang memberikan kebebasan ekspresi kepada masyarakat. “Dengan rolet, masyarakat bisa dengan mudah menyampaikan pendapatnya tanpa adanya sensor atau pembatasan yang ketat,” ujar Dr. Hestu.
Salah satu contoh penggunaan rolet sebagai sarana kritik sosial di Indonesia adalah melalui meme-meme yang viral di media sosial. Meme-meme ini seringkali digunakan untuk menyindir atau mengkritik keadaan sosial dan politik di Indonesia. Menurut data yang dilansir oleh We Are Social dan Hootsuite pada tahun 2020, Indonesia merupakan salah satu negara dengan penggunaan meme tertinggi di dunia.
Namun, penggunaan rolet sebagai sarana kritik sosial juga tidak lepas dari kontroversi. Beberapa pihak berpendapat bahwa rolet seringkali digunakan untuk menyebarkan informasi palsu atau hoaks yang dapat memicu konflik sosial. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang ketat untuk mengatasi penyebaran hoaks di rolet.
Menurut Pakar Hukum Media, Dr. Naufal Abshar, “Pemerintah perlu melakukan regulasi yang tepat terkait dengan penggunaan rolet sebagai sarana kritik sosial. Regulasi yang baik akan dapat mengontrol penyebaran informasi palsu dan meminimalisir konflik sosial yang dapat timbul akibat dari penggunaan rolet yang tidak bertanggung jawab.”
Dengan demikian, rolet sebagai sarana kritik sosial di Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk opini masyarakat terhadap berbagai isu sosial yang terjadi. Namun, penggunaan rolet juga harus dilakukan dengan bijaksana dan bertanggung jawab agar tidak menimbulkan konflik sosial yang lebih besar.